www.kapurnews.com
 
BKSDA Riau Diultimatum, Warga: Jika 7 Hari Tak Ditangkap, Kami Buruh Harimau Bersama-Sama
Senin, 12-03-2018 - 21:48:55 WIB

TERKAIT:
 
  • BKSDA Riau Diultimatum, Warga: Jika 7 Hari Tak Ditangkap, Kami Buruh Harimau Bersama-Sama
  •  

    KapurNews.com - Ratusan warga Pelangiran Indragiri Hilir mengultimatum Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau, terkait teror serangan harimau yang menewaskan seorang warga setempat beberapa waktu lalu.

    "Kami beri tenggang waktu satu minggu. Hidup atau mati harus dapat (ditangkap, red)," kata Rudi, salah seorang warga Pelangiran ketika dihubungi wartawan dari Pekanbaru, Senin, 12 Maret 2018.

    Ultimatum itu, katanya sudah disepakati 500-an warga lainnya menyusul kematian Yusri Efendi (34) akibat diterkam hewan yang dilindungi itu pada Sabtu 10 Maret 2018 lalu.

    Yusri meninggal saat sedang bekerja membangun sarang walet di Dusun Sinar Danau, Desa Tanjung Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Indragiri Hilir.

    Dalam insiden ini, korban merupakan warga asal Desa Danau Pulau Muda, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan. Sementara, warga yang memberi ultimatum tersebut juga berasal dari Desa Danau Pulau Muda. Dua kecamatan itu secara lokasi bertetangga.

    "Kalau seminggu tidak dapat ditangkap, kita akan turun memburu harimau ini bersama-sama," ujarnya.

    Kepala BBKSDA Riau Suharyono ketika dikonfirmasi membenarkan ultimatum tersebut. Bahkan, Suharyono menuturkan ultimatum itu terangkum dalam sebuah surat bertulis tangan. Surat itu berisi tiga tuntutan.

    Pertama, pihak masyarakat meminta BKSDA Riau secepatnya "membunuh" hewan ganas tersebut dalam waktu tujuh hari. Selanjutnya, jika tidak ada tindakan maka masyarakat akan mengambil tindakan sendiri untuk membunuh hewan ganas secara bersama-sama.

    Dalam surat dengan tulisan tangan pada secarik kertas bermaterai turut ditandatangani oleh perwakilan masyarakat, perusahaan PT Tabung Haji Indo Plantation (THIP) serta perwakilan BKSDA Riau.

    Suharyono mengatakan bahwa bahasa "membunuh" bukan merupakan bahasa BKSDA. Dia menuturkan, anggotanya dipaksa menandatangani surat tersebut lantaran dalam kondisi dipaksa masyarakat.

    "Tadi tim dipaksa untuk tanda tangan, tim dipaksa membunuh oleh masyarakat. Ini bukan bahasa kami. Kami akan upayakan segera mungkin untuk evakuasi, tapi namanya hewan liar resiko yang sangat tinggi, kami tetap memperhitungkan (faktor keselamatan)," ujarnya seperti lansir dari Antara.

    Lebih jauh, hari ini dia menuturkan BKSDA Riau kembali mengirim 24 personel tambahan untuk menangkap harimau tersebut. Personel itu turut dilengkapi dengan senjata bius. (*)





     
    Berita Lainnya :
  • BKSDA Riau Diultimatum, Warga: Jika 7 Hari Tak Ditangkap, Kami Buruh Harimau Bersama-Sama
  •  
    Komentar Anda :

     
     
    PILIHAN EDITOR
    Dibuka Romi, 140 Peserta Perebutkan Tropi Andi Putra
    Buka FKI 2017, Ini yang Disampaikan Bupati Wardan Dihadapan Lebih dari 20.000 Masyarakat
    Ini Cerita Rana Hauna Hafizhah Pembawa Baki Bendera Merah Putih
    Mantap! Siswi MIN Pangean Raih Emas Diajang Aksioma Tingkat Nasional
    Muhammad Bakri Ikuti Seleksi Pilar-Pilar Sosial Tingkat Nasional
     
     
    INDEKS BERITA
    1 3 Bendahara Bapenda Riau Ditahan, Rekan Kerja Menyaksikan dengan Isak Tangis
    2 Para Suami Jangan Santai, Waspada Tanda-Tanda Istri Mulai Bosan
    3 45 Warga Mandah Inhil Keracunan Usai Makan di Pesta Pernikahan
    4 Umat Muslim Haram Gunakan Atribut Non-Islam
    5 IPRY Siap Jadi Duta Pariwisata dan Budaya Kuansing
    6 Hasil Evaluasi, Ini Realisasi Fisik dan Keuangan Pemkab Bengkalis Tahun 2017
    7 Bertemu dengan Kadis Dipersip, Mahasiswa Kuansing di Jogya Dukung Gerakan Ayo Membaca
    8 Duh! Situs Diskominfotik Bengkalis Diretas
    9 Mantap!, Bupati Mursini Sebut Kuansing Siap Jadi Tuan Rumah Porprov Riau
    10 Warga Kota Tengah Rohul Keluhkan Kondisi Jalan yang Rusak Menahun
     
    Galeri Foto | Advertorial | Indeks
    Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Tentang Kami | Info Iklan
    © 2017 PT. KAPUR MEDIA INDONESIA, All Rights Reserved