www.kapurnews.com
 
Media Cetak tak Ada Raih Adinegoro 2018
Kamis, 17-01-2019 - 22:20:50 WIB

TERKAIT:
 
  • Media Cetak tak Ada Raih Adinegoro 2018
  •  


    KapurNews.com - Setelah melalui diskusi yang ketat, para juri Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2018 kategori indepth reporting (penulisan berkedalaman) media cetak Marah Sakti Siregar. Dr.Artini, Putut Husodo, bersepakat dan memutuskan tidak ada pemenang.

    "Tidak ada yang memenuhi standar penilaian indepth reporting dan tidak ada perspektif kepentingan publik. Sehingga, kami sepakat tidak menemukan tulisan atau karya yang mendalam implikasinnya bagi kepentingan publik," tegas Marah Sakti Siregar, Ketua Dewan Juri Anugerah Jurnalistik Adinegoro Kategori Indepth Reporting Media Cetak, Rabu 16 Januari 2019 di Kantor PWI, Jalan Kebun Sirih, Jakarta Pusat.

    Namun, para juri yang telah menyeleksi semua karya yang masuk berdasarkan topik, angle, impact, upaya, komposisi, dan pengayaan visual, memutuskan memberikan penghargaan kepada karya Ahmadi Sultan berjudul "Melihat Geliat Pemilu di Tapal Batas Republika Indonesia; Gairah Tinggi" Menabur Harap Lima Tahun Sekali" yang diterbitkan harian Batam Pos, 30 November 2018.

    Selain itu, juga kepada tulisan berjudul "Catatan Bukan Si Boy" karya Hussein Abri Yusuf Muda Dongoran yang diterbitkan majalah Tempo (15-21 Oktober 2018). Menurut Marah Sakti Siregar, yang juga penggagas Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI) Persatuan Wartawan Indonesia, semua karya yang masuk secara umum baik, ada upaya menghadirkan tulisan jurnalistik bertematik yang dalam, namun tidak memenuhi standardisasi kedalaman penyajian karya jurnalistik yang betul-betul 'indepth reporting'. Selain itu. tidak ada "greger" pilihan angle tidak tepat sasaran, sehingga pesannya tidak sampai kepada pembacanya.

    Sementara Dr. Artini, mengatakan, "Saya senang sekali membaca judul karya ini, tapi sayang kontennya mirip features. Bahasanya sederhana, kurang pilihan kata dan kalimat khas, kurang pengayaan dan impact yang cukup untuk mengedukasi publik."

    Sedangkan Putut Trihusodo menilai tidak ada kriteria terpenuhi dalam penyajian berita indepth kali ini. Tampaknya peserta tidak paham apa itu tulisan jurnalistik berkedalaman atau lapangan. Factual report tapi bukan realitas riset di lapangan. Edukasi dan informasinya sangat minim. 

    Jadi, tutur Putut Trihusodo. secara ulnum semua karya yang masuk tidak impresil. Pengungkapan fakta kurang akurat dan tidak jelas. Tidak terstruktur penyajian indepth reporting-nya. "Tapi kami mengapresiasinya, menghargai karyanya, sehingga kami memberikan penghargaan agar lebih semangat dalam berkarya menyajikan tulisan jurnalistik yang berkedalaman," harap Putut Trihusodo pada rilis yang diterima redaksi KapurNews.com, Kamis, 17 Januari 2019.

    Pemenang Kategori Jurnalistik Radio
    Features Radio bertajuk "Suara Disabilitas Mental Dalam Demokrasi Nasional" karya Benny Hermawan yang dirilis RRI Surabaya 19 November 2018 serta "Kejar Kemenangan Agung, Kalahpun Terhormat" karya Sri Iswati ,vang disiarkan siber jayakartanews.com 30 November 2018 berhasil meraih Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2018 Kategori Radio dan Kategori Siber.

    Demikian keputusan juri Kategori Jurnalistik Radio dan Kategori Jurnalistik Siber setelah melalui debat yang panjang dan alot pada Selasa, 15 Januari 2019 di Kantor PWI Pusat, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat.

    Sesuai tema "Masyarakat Pers Mengawal Pemilu yang Demokrat dan Bermatlabat", para juri Kategori Radio yang terdiri dari Errol Jonathans (Ketua Dewan Juri). Awanda Erna, dan Chandra Novriadi sepakat bahwa radio-radio peserta Anugerah Jurnalistik Adinegoro kali ini lebih berkualitas dalam teknik audio, human interest. objektif, dan tepat sasaran, lugas, bermakna, sarat edukasi dan informatif, serta memiliki kepekaan yang tinggi.

    Khususnya sang pemenang, mampu mengemas karya imajinatif, inovatif, edukatif, menghadirkan tema yang objektif. dengan sentuhan human interest dan kepekaan yang tinggi. Mengompilasi hot isu Pemilu sebagai objek pemberitaannya, menghadirkan kondisi psikis yang diramu dengan apik, serta memupus stigma bahwa disabilitas jiwa selama ini tidak bisa apa-apa. Karena ternyata. disabilitas kejiwaan itu memiliki tingkatannya.

    "Inilah pers yang peka menanggapi hol issue bahwa suara disabilitas kejiwaan ini juga memiliki hak dalam memilih. Kemasannya lengkap, ada pro-kontra dari elite politik, pihak medis yang mengungkap bahwa disabilitas ini memiliki tingkatannya. Ketika dalam kondisi benar, dia mampu berbicara benar dan logis. Edukasinya pun sarat. Dari segi narasumber. akurasi, audio, lengkap sekali dan informasinya benar-benar dapat dipertanggungjawabkan," kata Errol Jonathans, yang juga konsultan di bidang radio ini.

    Senada dengan Errol Jonathans, Awanda Erna yang banyak menjadi pembicara dan pengajar jurnalistik radio ini menyatakan, secara umum banyak karya peseda yang menyentuh tematik dan juga berkualitas dalam kemasan beritanya. "Hanya sayangnya, penyajian mereka sangat lokus. Tidak menangkap hot issue yang nasional seperti karya si pemenang ini," ujar Awanda Erna. 

    Awanda menggambarkan, dalam karya radio ini, si penderita disabilitas dapat diwawancara. "Bisa iadi, dia tunggu sampai tepat waktunya untuk diajak berbicara tentang haknya. Narasinya berlutur dalam kemasan ini juga enak didengar sehingga mengalahkan karya-karya lain yang juga bagus-bagus," ujar Awanda Erua.

    Pemenang Kategori Jurnalistik Siber
    Dari Kategori Jumalistik Siber, pada Selasa, 15 Januari 2019 Dewan Juri memutuskan sebagai pemenang adalah karya Sri Iswati yang dimuat di www.jayakartanews.com bertajuk "Kejar Kemenangan Agung, Kalahpun Terhormat". Karya tersebut disepakati para juri sebagai karya jurnalistik yang penyajiannya netral, bertutur, tajam, dan beredukasi yang segar.

    Menurut Dr.Agus Sudibyo, anggota Dewan Pers, sebagai Ketua Dewan Juri Anugerah Jumalistik Adinegoro Kategori Jumalistik Siber ini karya Sri Iswati ini merupakan sajian siber bertema dan mampu mengajak pembacanya untuk memikirkan kondisi yang terjadi di republik ini yakni mengejar kemenangan yang agung diidamkan semua pihak, damai dalam perbedaan. Menyentuh tema, mengingatkan, mengedukasi masyarakat tentang situasi dan kondisi NKRI.

    Agus Sudibyo menilai, karya pemenang siber ini memenuhi kepentingan khalayak, inspiratif, membangun, mengedukasi, menyentuh tema mengawal pemilu yang bermartabat, santun dalam mengkritisi. "Memberikan informasi. Lengkap format sibel dalam format yang segar, objektif dan enak dibaca dan lugas," tutur Agus Sudibyo.

    Menurut Petty Fatimah, juri lainnya, karya pemenang siber ini menggunakan semua tools yang ada meskipun belum maksimal. "Suatu produk jurnalistik, pesan yang dibuatnya harus sampai ke komunikan. Tidak ambigu. Si wartawan harus mengemas pesannya sampai pada pembaca dengan tepat. Bagaimana itu harus sampai harus dibuat semenarik mungkin, mengekplorasi semua kemampuannya dengan pas dalam hitungan waktu yang sedikit mungkin, tapi lengkap," jelas Petty Fatimah.

    "Jadi paparan konten di media siber, selain unik berlomba dengan waktu penyajian dan kreativitas yang terpadu. Karena pembacanya semua serba praktis. Baca dan terus pergi. Nah karya pemenang ini mampu menghentikan mata untuk tartarik atau berhenti sejenak grma membaca tulisannya. Dia menggunakan semua tools, video, foto, dan hal-hal terkait. Menarik, informatif, segar, dan kreatif sehingga pesannya yang lengkap itu sampai ke pembaca. Itulah yang ada di karya pemenang ini meski belum spektakuler sekali," jelas Petty Fatimah, Pemimpin Redaksi majalah Femina dan aktivis wirausaha perempuan ini.

    Sependapat dengan kedua iuri tersebut di atas, Dr.Mulharnetty Syas, Dekan Fakultas llmu Komunikasi IISIP mengatakan, "Pesannya sampai ke komunikan. Santun bertutur. Kritisi dan edukasinya seirnbang bertematik, segar dan dinamis berlutur. Memenuhi persyaratan berita. narasumbernya terwakili, visualnya lengkap, lugas. dan enak membacanya," ujarnya.

    Pemenang Kategori Jurnalistik Televisi
    Sementara Pemenang Kategori Jurnalistik TV Rabu malam 16 Januari 2019 ditetapkan para juri Nurjaman Mochtar, Immas Sunarya dan Imam Wahyudi adalah Features News bertajuk 'Suara Dari Rimba" karya Anton Bachtiar Rifai yang ditayangkan Liputan 6 SCTV 13 Desember 2018. (*)



     
    Berita Lainnya :
  • Media Cetak tak Ada Raih Adinegoro 2018
  •  
    Komentar Anda :

     
     
    PILIHAN EDITOR
    Dibuka Romi, 140 Peserta Perebutkan Tropi Andi Putra
    Buka FKI 2017, Ini yang Disampaikan Bupati Wardan Dihadapan Lebih dari 20.000 Masyarakat
    Ini Cerita Rana Hauna Hafizhah Pembawa Baki Bendera Merah Putih
    Mantap! Siswi MIN Pangean Raih Emas Diajang Aksioma Tingkat Nasional
    Muhammad Bakri Ikuti Seleksi Pilar-Pilar Sosial Tingkat Nasional
     
     
    INDEKS BERITA
    1 3 Bendahara Bapenda Riau Ditahan, Rekan Kerja Menyaksikan dengan Isak Tangis
    2 10 Kepala Daerah di Riau Deklarasi Dukung Jokowi Ditegur Gubernur
    3 Terkait Pemasangan Baliho Mardianto Manan, Ini Penjelasan Koodinator Tim Pemenangan
    4 Pelayanan Kesehatan Amburadul, Mahasiswa Datangi Diskes Inhil
    5 Para Suami Jangan Santai, Waspada Tanda-Tanda Istri Mulai Bosan
    6 Umat Muslim Haram Gunakan Atribut Non-Islam
    7 45 Warga Mandah Inhil Keracunan Usai Makan di Pesta Pernikahan
    8 IPRY Siap Jadi Duta Pariwisata dan Budaya Kuansing
    9 Hasil Evaluasi, Ini Realisasi Fisik dan Keuangan Pemkab Bengkalis Tahun 2017
    10 Duh! Situs Diskominfotik Bengkalis Diretas
     
    Galeri Foto | Advertorial | Indeks
    Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Tentang Kami | Info Iklan
    © 2017 PT. KAPUR MEDIA INDONESIA, All Rights Reserved